Tak Berkategori

Kata perempuan

Ini hanya sebagian kecil rangkaian yang terbaca, tentang perjalanan, tentang cerita, tentang hidup kami, perempuan.
Jika kata menjadi ada, bukankah kita tak pernah tiada…

Iklan
Tak Berkategori

Petang di Taman

Suasana petang di Taman Boejana kali ini terasa dingin. Sedingin Abdul dan Maryam yang masih betah bersebelahan dalam kekakuan meski waktu telah mempertemukan. Maryam menatap langit dengan mata sembap. Sedangkan Abdul tak sedetik pun mengalihkan mata menatap sahabatnya. Entah apa yang sedang mengisi kepala Maryam saat itu sehingga bibir tipisnya tak juga bergerak meski Abdul berkali-kali mengucap maaf. Maryam seolah tak mendengar apa pun. Semua kata yang Abdul ucapkan seakan tak sampai ke gendang telinga perempuan itu. Lelaki yang bunuh diri lantaran Maryam menolak cintanya itu kini tak mampu berbuat apa-apa. Hingga sesaat setelah surya tenggelam, cahaya putih melintas secepat kilat di hadapan Maryam. Ia sontak terkejut, “Abdul, aku bukan pembunuh!”

Tak Berkategori

Babu Tetek

Ratusan purnama telah Tumirah lewati. Perempuan yang tinggal di Desa Kendigesit itu tak pernah melangkahkan kaki melewati pagar kayu rumahnya. Rumah kecil berdinding bambu menjadi tempat terbaiknya menyepi dari keramaian. Ia hanya keluar rumah untuk memetik sayur-sayuran dan bumbu pawon seperti jahe, lengkuas, kunir dan daun salam yang ia tanam sendiri.

Penduduk sekitar tak pernah lagi bicara pada perempuan tua yang dulu sering dicari orang tua untuk menyusukan anak mereka padanya. Dulu, ia adalah seorang babu tetek yang dibayar orang tua yang tak mampu memberi air susu ibu pada anak mereka. Tumirah menjadi sumber air susu bagi bayi-bayi di desanya.

Ia dianugerahi air susu melimpah setelah melahirkan bayi perempuannya yang hanya bertahan satu malam. Duka Tumirah tertutup kebahagiaan setiap kali ia menyusui bayi orang lain. Kesedihannya hilang setelah mendekap dan membiarkan air kehidupan dihisap bayi-bayi merah tak berdosa. Janda yang ditinggal mati lelakinya di ladang itu tak lagi meratapi nasib setelah bayinya kembali diminta Tuhan.

Namun semua cahaya itu kembali gelap ketika ia difitnah seorang perempuan yang pernah menyusukan anaknya pada Tumirah. Ia menyebar berita bahwa bayi kembar perempuan itu meninggal keracunan setelah pulang dari rumah Tumirah.

“Air susu Tumirah beracun! Bayi-bayiku kini berwarna biru! Janda itu mengambil bayi-bayiku!” teriak perempuan itu dengan raungan mirip orang kesurupan.

Tumirah tak berdaya. Ia sebatang kara. Dikucilkan membuatnya perlahan-lahan mengutuki diri. Tak mengerti garis hidupnya.

Bisakah kupinjam takdir orang lain? Aku bosan dirundung pilu tak berkesudahan.

Tumirah tak lagi menjadi perempuan yang dihormati karena air susunya. Mata mereka yang dulu ramah menyapa Tumirah telah berubah menjadi tatapan menjijikan. Malam jahanam telah menyulap nasibnya.

Setiap matahari, bulan dan bumi dalam posisi garis lurus, Tumirah tak pernah berani membuka matanya. Ia hanya akan menampar kedua pipinya dengan centong kayu hingga ia yakin bumi tak lagi dalam gigitan bayangan hitam.

Tamparan berulang itu selalu membuat kedua matanya berair. Sering ia dengan suara centong itu menjadi lebih nyaring ketika air mata Tumirah berada di antara kulit dan kayu untuk menyauk nasi itu.

Jika sebelumnya perempuan yang telah keriput itu menangis dalam diam, kini ia meraung-raung sambil melayangkan centong kayu ke kedua pipinya. Air matanya seperti air bah yang meluap. Suaranya seperti gemuruh ombak besar yang siap melahap daratan.

“Mati saja kau, Tumirah!” teriaknya pada diri sendiri. “Mati saja!”

Centong kayu berwarna cokelat pudar itu dia layangkan ke seluruh wajahnya.

“Aku bosan hidup sendiri, Tuhan! Kenapa harus aku yang tersiksa! Sudah kuberikan air kehidupan itu pada mereka. Namun mereka mengembalikan air bah padaku!” Tumirah berteriak dengan menggenggam centong kayu sekuat tenaga. Ia seolah mencekik kepahitan hidupnya.

Ketika ia berteriak histeris dengan air mata yang berhamburan, suara petir menggelegar begitu keras. Seolah petir itu berdiri tegak di atas atap rumahnya. Sontak Tumirah menjatuhkan centong kayunya. Ia terduduk, menangis kembali. Air matanya mengucur deras, sederas hujan yang turun begitu hebatnya.

Air matanya jatuh di atas kulit kayu centongnya. Sepersekian detik, centong kayu itu berpendar, melayang di udara.

Kedua mata Tumirah terbelalak. Ia tak percaya pada apa yang terjadi. Centong kayu itu berada di depannya, bersuara.

“Tumirah, kau sudah tua. Tidakkah kau bosan selalu memukul wajah keriputmu? Tidakkah kau mengerti mengapa kau kini terkurung bersamaku, Tumirah?” suara centong itu mirip suaranya sendiri.

Tumirah tergagap. Ia tak sanggup bicara.

“Aku bosan menyentuh pipimu dengan kasar, Tumirah.”

“Pergi! Pergi!”

“Aku akan pergi setelah kau lebih bijak menilai air susumu sendiri, Tumirah. Ikhlaskan air susu yang kauberikan pada mereka. Jangan pernah pamrih karen telah memberi sesuatu yang bukan berasal darimu sendiri. Sejatinya perempuan bukanlah pemilik asli air susu kehidupan. Tuhan hanya menitipkannya melalui tubuh perempuan agar ia mengerti arti keikhlasan.” Centong kayu itu pun tergeletak setelah menampar Tumirah dengan suaranya.

Perempuan tua itu pun kembali menangis sejadi-jadinya. Kini ia mengerti mengapa Tuhan menghukumnya dengan kesendirian. Dulu, sewaktu menjadi babu tetek tanpa sadar ia telah menjadi sombong. Ia ingat kalimat yang sering ia katakan setelah membiarkan bayi perempuan lain menyusu padanya, “datanglah kemari kapan pun, air susuku tak akan habis hanya untuk bayimu.” Meski ia mengatakannya dengan ramah, tanpa sadar kalimat kesombongannya itu telah melukai hati perempuan lain.

Tumirah menyesal telah mengutuki takdirnya. Tak seharusnya ia meminta takdir orang lain jika tak sanggup menjalani takdirnya sendiri.

Dalam tangis penyesalannya, samar-samar ia mendengar namanya dipanggil. Panggilan itu semakin lama semakin jelas, berulang-ulang.

Tumirah dengan langkah tuanya menuju asal suara itu. Di halaman, ia kaget melihat ada seorang perempuan terbujur dengan tubuh seperti habis terbakar. Orang-orang telah berdiri di sekitar tubuh itu.

Tumirah mendekati tubuh itu. Ia mencoba mengenali wajah perempuan yang terlihat gosong itu. Satu hal yang bisa ia pastikan, perempuan itu memiliki kulit keriput sepertinya.

Hujan semakin deras mengguyur Desa Kendigesit. Dalam kebingungannya, seorang warga yang tak lain adalah kerabat perempuan itu mengatakan hal yang membuatnya mematung.

“Saudaraku tertatih-tatih ingin meminta maaf padamu, Tumirah. Ia kesakitan. Ia berharap mati setelah meminta maafmu. Saudaraku telah berbohong. Bayi kembarnya meninggal bukan karen air susumu, tapi karena bubur yang ia buat sendiri. Ia iri padamu sebagai perempuan, Tumirah. Tapi petir telah membuatnya pergi sebelum mencium tanganmu.”

Tak Berkategori

Malam Ketujuh

1/

Malam ketujuh berpayung purnama

Aku melihat ibu tersenyum

Dengan kedua mata berair

Dan doa yang tak henti dalam katup bibirnya

2/

Bungah hatiku diselimuti pangestu ibu

Bermain bersama sedulur papat kelima pancer

Tak terjeda ruang, lima tahun rambutku dikepang

Kini kuhidu mawar

3/

Aroma apem dari dapur menusuk-nusuk hidung

Membawaku masuk, merekam jatuhnya air mata

Loyang adonan ragi dan tepung terigu penuh tetesan keikhlasan

Tawaku tersekat, tak kurasa detak jantung

4/

Labirin ingatan mengantarku ke pangkuan ibu

Ia masih menatap purnama

Hatinya memanggil namaku

Bibir keringnya terbuka, “Habiskan masa kecilmu di langit, Nak.”

Tak Berkategori

Bersama dalam Panggung Sandiwara

Setiap orang pasti memiliki pemikiran dan pemahaman yang berbeda-beda untuk melangkah kejenjang pernikahan. Tidak sedikit perasaan was-was yang mampir. Takut kalau kehidupan setelah menikah tidak akan sebebas dan sebahagia masa lajang. Tapi ada juga yang menjadikan pernikahan sebagai pijakan paling kuat dalam hidup dan menghidupi. Ujungnya, semua tergantung siapa yang mendampingi.

Saya juga mengalami pergolakan batin yang tak kalah hebat dari isu pemilihan presiden. Bagaimana tidak. Lelaki yang saya pilih harus seseorang yang tak hanya bisa menepati kampanye yang menyuarakan kesetiaan dan kemampuannya menerima saya.

Saat itu usia saya sudah memasuki dua puluh enam tahun. Orang tua saya sedang getol-getolnya ingin saya menikah. Mereka sedang ngotot-ngototnya memberi syarat calon mantu yang ideal bagi mereka. Sedangkan saat itu saya sedang giat mengasah kemampuan diri berteater.

Saya paham betul mencari pasangan yang bisa menerima seorang perempuan yang jatuh cinta pada dunia panggung itu tidak mudah. Ada pemikiran saya yang tidak mudah dipahami mereka yang mengaku jatuh cinta. Padahal kata cintanya hanya berlaku pada satu-dua kali pementasan. Setelahnya mereka akan mengekang dan memonopoli saya agar menjauhi seni peran. Alasannya satu, mereka cemburu.

Saya belajar dari senior-senior saya yang istiqomah berteater setelah menikah. Sayangnya mayoritas dari mereka adalah laki-laki. Sedangkan perempuan pekerja seni peran lainnya kebanyakan akan berhenti berteater karena larangan suami. Entah karena takut isterinya cinta lokasi atau takut tidak mampu membagi waktu.

Saya berpikir keras untuk mencari di mana saya bisa bertemu lelaki yang mengerti dunia seni peran ini. Akhirnya masuklah saya di beberapa pintu hati lelaki yang juga mencintai dunia seni peran melebihi kekasihnya. Semakin saya menyelami mereka, saya semakin mantap pada pendapat yang pelan-pelan saya yakini.

Saya akan menikah dengan lelaki yang tidak berkecimpung di dunia seni peran. Saya tidak bisa menikahi lelaki yang hebat dan tangguh dalam berteater.

Banyak yang mencibir pendapat saya itu. Mereka tidak yakin apakah saya bisa tetap bergerak setelah diperistri lelaki di luar zona teater. Menurut mereka, cara untuk tetap berteater setelah menikah adalah dengan menikahi salah seorang dalam dunia seni peran itu. Tapi saya tetap pada pendapat dan pendirian saya dan itu membuat saya harus rela mematahkan hati mereka yang terlibat cinta lokasi dengan saya.

Mengapa? Karena jika saya menikah dengan lelaki pekerja seni peran, justru saya yang akan berada di rumah sambil menimang bayi ketika suami saya melakukan satu pementasan teater. Ini bukan egois, tapi cara agar hidup lebih manis.

Menurut saya, mencintai kesenian tidak selamanya harus membuat kita hidup bersama dengan orang yang juga mencintai kesenian.

Bukan saya tidak bersedia menjalani kodrat sebagai seorang perempuan utuh. Saya akan patuh pada semua keputusan kepala rumah tangga. Tapi bukankah menjalani perjalanan panjang bersama teman hidup itu butuh kebahagiaan luar dalam? Saya hanya ingin menjadi perempuan jujur di mata lelakinya. Saya akan berhenti bukan karena satu orang tapi karena tidak ada yang menekan. Biarlah waktu yang membantu saya memutuskan harus berjalan seperti apa di panggung sandiwara ini.

Jadi setelah perjalanan panjang dan menguras air mata itu. Pilihan saya jatuh pada lelaki yang sekarang sudah menginvestasikan dua anak perempuan untuk saya. Lelaki yang ikut duduk di antara penonton yang menikmati pementasan. Suami yang mempercayai isterinya.

Terima kasih karena kampanyemu kala itu bukan omong kosong, Bapak. Tetaplah tabah menemaniku menjalani panggung sandiwara.

#katahatichallenge

#katahatiproduction

Tak Berkategori

Doa Perawan Tua Bajomulyo

Kekasihku, Pur

Telah kaulewatkan tujuh purnama tanpaku

Tidakkah kaurindu?

Aku sedang membenahi diri selama kepergianmu

Tujuh syawal sudah kau tak kembali, Pur

Cangkir kopi kini hanya hiasan

Bertemu di pengolahan ikan hanya khayalan

Tidakkah kau mengerti ini mengerikan?

Sesaji telah siap, Pur

Kirab gunungan sudah dirubung warga

Dua kepala kerbau bersiap menuju muara

Laut Jawa pasti mengirimu padaku

Di lubuk hatiku, Pur

Kau sedang bahagia

Menerima doa keselamatan

Kemudian bergegas menepi

Dua miniatur kapalmu, Pur

Kini membawa kepala kerbau seperti Syawal sebelumnya

Simbol syukur kita yang tak menabur benih namun memanen bermilyar-milyar

Bukankah laut menyelamatkanmu?

Kembalilah, Pur

Aku hanya perawan tua Desa Bajomulyo yang merindukan kasihnya

Perempuan yang tak pernah luput melarung sesaji untuk nelayannya

Penghuni Bumi Mina Tani yang kasmaran

Syawal hampir habis

Doaku tak akan menipis

Pulanglah, Pur

Larunglah resahku

#katahatichallenge

#katahatiproduction

Tak Berkategori

SATU SORE YANG PANJANG

Setelah memutuskan hidup sendiri, hampir setiap sabtu sore aku duduk di bangku kayu tepi pantai untuk menikmati laut. Kesepian telah membawaku kembali ke tempat ini. Tepi pantai yang telah lama kutinggalkan beserta lautan kenangan.

Suatu sore aku menemukan seorang lelaki seumuranku melihat ke arah laut. Ia duduk di bangku yang biasa kududuki. Semakin langkahku mendekati bangku yang sedang kedatangan tamu itu. Aku terlempar kembali ke masa kejayaanku. Masa di mana para lelaki memburu cintaku. Masa di saat perasaanku karam di dada lelaki yang meninggalkanku. Lelaki yang duduk itu, dua puluh tahun lalu kulihat di pelaminan. Setelahnya, kublokir semua akses yang menghubungkanku dengannya.

Ingin sekali aku membalikkan badan dan menjauh ketika kusadari lelaki itulah yang kubiarkan mengubur impianku menjadi pendampingnya. Tapi kurasa kali ini aku tidak boleh lari. Mungkin saja tadi ia sudah tahu kedatanganku. Sekali saja aku tidak ingin terlihat pengecut dihadapannya.

Aku duduk di sampingnya tanpa menyapa. Ia pun tidak mengeluarkan sepatah katapun dan tidak menoleh padaku. Aku hanya sesekali meliriknya, memastikan ia sudah menua sepertiku.

Satu jam berlalu dengan begitu cepat ketika kami kembali bertemu. Aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang Tuhan rencanakan untukku dan dia. Apakah Tuhan sedang mengajak kami bergurau lagi? Ataukah Tuhan sedang menguji kesetiaan kami pada masa lalu? Aku sungguh tidak mengerti mengapa setelah puluhan tahun Tuhan menjauhkan kami, hari ini Tuhan kembali mempertemukan kami.

“Kita lama tidak bertemu, apakah pertemuan ini hanya akan berakhir tanpa kata-kata? Apa kau tidak ingin menanyakan kabarku?” Kalimat tanyanya membuat lamunanku bubar jalan. Tidak kusangka ia akan mengatakan kalimat seperti itu setelah cukup lama diam.

“Kukira kau tidak lagi mengenaliku.” Ucapku dengan nada acuh.

“Apa yang kaupikirkan sedari tadi? Apakah sangat sulit bagimu menyapaku lagi?”

Aku menarik nafas panjang, mengatur intonasi agar tidak nampak canggung, “aku sedang mengingat potret terakhir yang kauberikan padaku dulu. Di sini potret hitam putih itu kurobek dan kubuang. Biar laut memakannya seperti remahan roti sisa!” Kalimat ketusku ternyata tidak membuatnya tersinggung.

“Kau pasti marah padaku.” Bibirnya melengkung sembari tangannya merogoh saku jaket kulitnya yang nampak kusam.

Betapa terkejutnya aku ketika ia menunjukkan padaku selembar foto hitam putih yang berisikan kami. Aku masih ingat betul, seorang teman telah berbaik hati mengabadikannya secara diam-diam. Saat itu kami sedang menertawakan nasib percintaan kami yang tragis. Ia yang bersedia dijodohkan dan aku yang tetap mengharapkannya.

“Kenapa masih kausimpan? Rambutmu sudah memutih, kenapa kau masih saja menyimpan foto tidak berarti itu?”

“Hanya ini satu-satunya yang kusimpan. Barang-barang peninggalanmu yang lain sudah dibakar mendiang isteriku. Foto lama ini kulipat kecil dan kuselipkan di dompet. Aku sendiri heran mengapa aku tidak berniat membuangnya. Ada banyak warna yang kulihat dari foto hitam putih ini. Gigi gingsulmu yang putih. Hidung merahmu setelah menangis. Kedua alis hitammu yang manis. Bahkan lipgloss orange mu masih jelas terlihat di sana.”

“Kita sudah tua. Jangan merayuku.” Kataku sambil melirik foto kumal yang ia pegang. Ada rasa bahagia terselip, namun harus tetap kututupi.

“Aku sudah tua. Rayuanku sudah tidak manjur lagi.” Ia tertawa kecil. “Anakku mengantarkanku ke sini. Kurasa sebentar lagi ia akan datang menjemputku. Aku beruntung memiliki anak yang memahami betapa berartinya sebuah kenangan untukku. Sekarang hanya harapan yang bisa membuatku bertahan hidup.”

Aku mengernyitkan dahi, mengamatinya yang sedari tadi tidak memandangku. Tidak banyak yang berubah darinya setelah dua puluh tahun lalu ia meninggalkanku naik pelaminan dengan perempuan lain. Lekuk wajahnya masih seperti dulu meski keriput sudah terlihat jelas di sekitar matanya.

“Apa kau berharap pertemuan tidak terduga ini akan membawaku kembali bersamamu? Tidak. Aku sudah bahagia menjanda. Jadi janda itu lebih memicu adrenalin dari pada memiliki kekasih baru.” Kataku sinis.

Lagi-lagi aku tidak melihat raut wajah kesal menghampirinya. Ia justru terkekeh.

Entah mengapa aku menjadi kesal dengan sikapnya itu. Sikap yang sedari dulu tidak berubah. Sikap yang selalu membuatku terjebak.

Aku berdiri dari bangku. Kurasa berlama-lama dengannya hanya akan membuatku terjebak lagi. Bagaimanapun juga aku hanya bagian dari masa lalunya.

“Aku pergi dulu. Sepertinya kita memang tidak seharusnya bertemu. Kau bahkan tidak ingin melihat wajahku.”

Aku hampir melangkahkan kaki, namun langkahku terhenti ketika pergelangan tangan kiriku dipegangnya. Cukup erat kurasakan jari-jarinya melingkar di pergelangan kecilku.

“Maaf. Penglihatanku terganggu. Mataku hanya bisa menangkap sedikit warna putih sebagai tanda cahaya. Selebihnya semua berwarna hitam. Aku hanya berharap perempuan yang puluhan tahun lalu kutinggalkan bersedia memberi warna lagi dihidupku.”

Mataku meleleh.

Pementasan Teater

Lakon SOR karya Nursyam

“Ampuuuuuuun… Saya hanya suruhan pak petinggi.”

Mengingat kembali lakon SOR

Pada hari Minggu tanggal 19 April 2015, kelompok Teater Minatani Pati memainkan lakon SOR karya Nursyam di Kantor Kecamatan Pati. Naskah lakon yang mengangkat isu pertanian sengaja diangkat oleh teman-teman teater Minatani Pati yang berdomisili di kabupaten yang berslogan Pati Bumi Mina Tani. Kabupaten yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan. 

Tiga tahun berlalu dan permasalahan pertanian sebenarnya masih begitu dekat dengan para petani di Kabupaten Pati. Penyebabnya bisa dari faktor kebijakan pemerintah tentang aturan ekspor-impor, tata ruang lahan, pengairan dan lain sebagainya. Nah, di sinilah naskah lakon SOR bergerak, mengangkat masalah pengairan yang kerap terjadi.  Masalah yang muncul dari ambisi seseorang yang bisa merugikan banyak orang. 

Menurut saya yang ikut menjadi pemain di dalam naskah ini, naskah ini dari luar terlihat sederhana. Namun di dalamnya ada begitu banyak hal yang tidak bisa disederhanakan begitu saja dalam  kehidupan manusia. Ide sederhana yang mampu membuat kita ingat bahwa godaan tidak hanya datang dari luar rumah, tapi juga di dalam rumah. Siapakah godaan terberat suami ketika berada di dalam rumah? Jawaban dari naskah ini adalah seorang isteri yang selalu ingin bergelimangan harta tanpa memikirkan dari mana asalnya uang yang didapatkan suaminya.

“Beras berkarung-karung harus segera memenuhi lumbung rumahku!”

 Cerita di naskah lakon ini dimulai dengan munculnya Gumeg, seorang suruhan petinggi yang mendatangi mantri air bernama Pak Kendo. Gumeg membujuk Pak Kendo agar bersedia merubah aliran air wetan kali ke kulon kali. Sejumlah uang, berkarung-karung beras dan iming-iming sebuah motor  dibisikan Gumeg ke telinga mantri air.

Mantri air awalnya menolak menuruti hasutan Gumeg meski sesungguhnya ia mulai tergiur. Tapi begitu isteri Pak Kendo muncul dan mengetahui semua rencana Gumeg, mantri air itu tidak bisa menolak lagi. Isterinya yang gila harta itu meminta suaminya untuk mengikuti rencana Gumeg. Isterinya tidak peduli jika nanti warga wetan kali harus gagal panen karena yang terpenting baginya adalah keuntungan.  Mantri air yang terkenal bijak itupun patuh pada perintah isterinya.

Arif Khilwa sebagai Pak Mantri
Siwigustin sebagai Isteri Pak Mantri
Ketika Gumeg merayu pak mantri
Beni Dewa sebagai Gumeg

Warga kulon kali pun mulai curiga ketika air tidak mengalir ke sawah mereka. Mereka kemudian mencari tahu sebab musababnya. Mereka mengintai semua gerak-gerik mantri air. Selain mengamati lingkungan rumah Pak mantri, warga juga menyamar sebagai orang-orangan sawah untuk mengetahui apa yang terjadi di malam hari. Dari usaha itulah mereka mengetahui semuanya. 

Pak Kendo dan Gumeg di kepung warga. Mereka tidak punya alasan untuk mengelak. Mantri air dilengserkan dan Gumeg dibawa ke pihak berwajib.


Gumeg tertangkap warga

Bagi saya pribadi, energi dari naskah ini masih terasa sekali sampai saat ini. Hal lain yang menandai keberadaan naskah lakon ini di dalam kehidupan saya adalah ide menulis yang muncul setiap kali saya mengingat pementasan ini. Ada banyak hal yang saya pelajari dari lakon ini.

Untuk mas Nursyam selaku penulis dan sutradara naskah, saya sangat berterima kasih karena dari naskah SOR saya belajar menggali ide menulis dari kehidupan di sekitar saya. Dari naskah SOR saya belajar untuk bisa menjadi isteri yang tidak hanya melulu memikirkan duniawi.

Mas Nursyam, penulis dan sutradara naskah SOR
Teater Minatani Pati dalam Lakon SOR
Pantomim oleh Bayu Bahtera sebagai pembuka pementasan

Tak Berkategori

Ayam Jago

1/Tujuh hari setelah kepulanganmu

Fajar merekah seperti sebelumnya

Namun kokok ayam tak lagi mengisi gendang telinga

Hanya isak yang tersaji setelah subuh tanpamu

2/Tujuh hari setelah kepulanganmu

Tak lagi kulihat jengger menantang langit

Tak lagi kulihat paruh yang sibuk mematuk mangsa

Ayam jagomu mati dini hari

3/Tujuh hari setelah kepulanganmu

Di sudut kandang tempat jagomu kaku kemudian kukubur

Aku berkata pada diriku yang pasi

“Jago saja kehilanganmu, apalagi aku.”

Cerpen, Tak Berkategori

Surat Terakhir

Semburat langit berwarna jingga masuk melalui celah jendela ruang tamu. Kurasakan sekali sore itu sinar senja menghangatkanku yang sedang duduk di samping Bapak yang sedari tadi diam.

“Baiklah, Pak. Akan kubacakan surat yang kutemukan di bawah bantalmu pagi tadi.” Kataku sambil melirik Bapak, tidak ada tanda-tanda bibirnya yang kecoklatan dan kering akan bergerak untuk bersuara.

Kutarik nafas dalam-dalam sebelum kumulai membaca setiap kata yang telah Bapak tulis. Surat yang panjang, yang mungkin sengaja Bapak tulis untuk hari ini.

Untuk Sabit, bayi mungilku yang kini telah menjadi perempuan sungguhan.

Bapak sedang berada di samping makam ibumu ketika menuliskan surat pendek ini. Surat yang kuduga akan kaubaca saat kau membersihkan tempat tidurku yang bau keringat dan berantakan.

Sabit, akan sedikit kuceritakan malam pertama saat kau hadir menyapaku dan ibumu.

Malam itu selepas salat magrib di teras rumah, bulan sabit baru menemaniku dan Ibumu yang sedang asyik mencari nama untukmu. Kukatakan pada Ibumu yang saat itu perutnya telah lebih besar dari perutku yang berisi lemak, kalau kau sebentar lagi akan lahir dan akan kuberi nama Sabit. Tapi Ibumu ngotot ingin memberimu nama Purnama karena menurut perasaannya kau akan lahir saat bulan purnama.

Disaat kami sedang berdebat sengit perihal nama yang akan kami sematkan padamu, tiba-tiba Ibumu merasa perutnya mengencang, ia merasakan kontraksi, kau menendang-nendang dengan begitu semangatnya sehingga membuat Ibumu meringis kesakitan.

“Mas, anakmu sepertinya mau lahir,” katanya dengan kedua tangannya memegangi perut bagian bawah yang seolah-olah ingin jatuh ketanah, “Rasanya ia sudah hampir keluar mas.”

Aku gelagapan. Tidak ada persiapan sama sekali jika kau akan lahir malam itu. Uang biaya lahiran belum ditangan. Baju bayi untukmupun belum terbeli.

“Mas! Cepat panggil Mbah Sarpi!” Bentak ibumu yang membuyarkan lamunanku.

Aku segera membopong ibumu yang mengerang kesakitan ke dalam rumah, merebahkannya di atas kasur kapuk tipis dengan dipan yang selalu bersuara “ciiit” ketika ditiduri. Setelah itu aku berlari menuju rumah Mbah Sarpi, dukun bayu yang rumahnya hanya berjarak dua rumah dari rumah kita.

Tak lama aku dan Mbah Sarpi sudah sampai di rumah. Nafasku masih berlarian karena lelah menggendong Mbah Sarpi, yang jika tidak kugendong, mungkin dua hari ia baru akan sampai rumah. Sungguh saat itu aku merasa jalannya seperti keong.

Betapa terkejutnya aku dan Mbah Sarpi saat memasuki kamar. Kulihat Ibumu sudah menggendong bayi mungil yang tali pusarnya belum terpotong. Bayi itu adalah kau, Sabit.

“Mas, anakmu tidak sabar untuk melihatmu. Kemarilah.” Kata ibumu yang wajahnya bermandikan keringat.

Aku menatapmu yang saat itu masih sangat kecil, Sabit. Kusentuh pipimu yang masih bercampur air ketuban dan darah.

“Namanya Sabit, Mas.” kata Ibumu yang nampak begitu lelah dibalik senyumnya.

Belum sempat kutimpali perkataan ibumu, Mbah Sarpi sudah memintaku untuk sedikit menyingkir karena ia harus membersihkan dan memotong tali pusarmu, Sabit.

Aku mundur beberapa langkah darimu dan Ibumu. Kulihat binar mata Ibumu yang tiba-tiba meredup. Wajahnya memucat. Kupikir Ibumu mengantuk.

Tapi tiba-tiba Mbah Sarpi yang tadinya lambat seperti keong berubah menjadi kancil yang lincah. Ia menggedongmu lalu memberikanmu padaku, kemudian ia membersihkan darah-darah yang masih melekat di pangkal paha ibumu.

Kemudian Mbah Sarpi memanggil-manggil ibumu yang tertidur. Ia mencoba membangunkannya, mengguncang-guncang bahunya. Lalu ia berteriak-teriak, “bangun, Nduk. Bangun! Anakmu butuh nyusu.”

“Mbah, ada apa? Apa yang terjadi?” tanyaku mulai gusar.

Mbah Sarpi menyeka matanya, kulihat ia menangis. Ia menatapku, “isterimu….” Ia menggelengkan kepala dan kembali menangis sambil berkata “innalillahi wainna illaihi rojiun.”

Kutatap wajah ibumu yang tertidut begitu lelapnya dengan lengkung senyum seperti bulan sabit. Ia bahagia telah mengantarkanmu ke dunia ini, Sabit.

Ia bahagia telah menjadi Ibu. Kaulah yang mengantarkannya ke surga. Jadi jangan lagi kau menyalahkan dirimu sendiri atas kepergiannya.

Ketahuilah, Sabit, Ibumu telah membuatmu menjadi perempuan yang tangguh sejak hari pertama kau dilahirkan.

Selanjutnya, bacalah semua surat dariku dengan bahagia. Jangan pernah membiarkan dirimu larut dalam kesedihan.

-Haryo, Bapak yang selalu menyayangimu dan Bulan, Ibumu yang selalu bangga melahirkanmu. Selamat wisuda, Sabit.

“Sabit, sudah waktunya. Kita antar Bapak sekarang.” Kata Pak Kyai yang akan memimpin sholat jenazah untuk Bapak.

Tak Berkategori

Matamu Bukan Mataku

1/

Kausebut mataku laut

Tempatmu ingin tenggelam

Kemudian karam dalam bara cumbu

2/

Katamu, mataku jurang

Lembah sempit tempatmu ingin jatuh

Bersama segala resah dan keluh

3/

Kaukata mataku rumah

Tempatmu menemukan tawa

Juga lengkung senyum pemikat senyummu

4/

Nyatanya mataku hanya kamar losmen

Tempatmu merebah sesaat

Kemudian kembali padanya, pemilik matamu yang telah memikat mataku.